Beranda » Uncategorized » Baduy

Baduy

Pernahkah terpikirkan oleh kita bagaimana rasanya bila kita hidup tanpa listrik, berjalan mengijak bumi tanpa menggunakan alas kaki seumur hidup kita. Mungkin hal tersebut pernah terpikirkan oleh kita namun belum tentu kita laksanakan sepenuhnya. Jika kita mempertanyakan “masih adakah orang hidup tanpa listrik juga tanpa alas kaki dan hanya berjalan’ tentu dengan semangat saya akan membuktikan bahwa itu ada. Baduy adalah salah satu suku di Indonesia. Suku Baduy masih menjaga adat istiadat dari para leluhurnya. Uniknya, suku baduy tidak tergoda dengan kecanggihan teknolgi di era modern ini.Teknolgi kendaraan sudah mencapai tahap ramah lingkungan namun suku baduy tetap berjalan kaki yang sangat lebih ramah dengan lingkungan. Berbagai macam jenis alas kaki yang ada saat sekarang ini orang baduy tetap tidak menggunakannya. Pemandangan indah dan udara yang sangat segar saya dapatkan di pegunungan lebak dimana suku baduy berada. Berikut adalah pengalaman kami saat mengunjungi Baduy.

baduy 2

Beruntung

Mungkin hanya kata beruntung yang bisa kami simpulkan saat mendapatkan tugas untuk mengetahui tentang budaya baduy. Bagaimana tidak, kami mendapatkan pengalaman menarik serta unik ketika menuju Baduy. Sepanjang perjalanan kami disuguhi panorama yang sangat indah. untuk   menuju baduy dalem kita bisa melalui dua pintu masuk yaitu melalui Ciboleger atau Cijahe. Jalur yang kami pilih adalah melalui pintu masuk Ciboleger. Sesampainya disana kami terkena kendala yaitu terjebak oleh calo. Sangat memilukan bila melihat realita yang ada. Tempat wisata budaya harus terkena virus calo  sehingga membuat tidak nyaman para pengunjung. Pemerintah seharusnya membrantas hal seperti itu. Akibat ulah mereka bisa membuat para pengunjung memberikan reputasi buruk terhadap wisata budaya Indonesia. Tak bisa dipungkiri bahwa hal itu juga di dukung oknum kuat. Ketika kami terjebak oleh calo yang jahat kami dipaksa menuju salah satu desa dan terkena biaya sampai 400.000 rupiah untuk biaya penginapan satu malam. Sungguh diluar dugaan kami jika harus membayar sebesar itu dengan budget dibawah biaya tersebut. Perjalanan kami sempat terhenti lama akibat ulah mereka. Emosi pun tak tertahankan kami akhirnya nekat lari pergi meninggalkan calo tersebut dan kami pun terus menghindar. Kami beruntung, saat kamu menghindar dari kejaran calo itu kami bertemu teman kami yang baru saja turun dari baduy dalem bersama orang baduy dalem asli yang bernama kang Sarif. Kami ditolong dengan kang Sarif dengan berdalih “kalo mau ke baduy dalem bareng aja sama saya, sekalian saya pulang” dengan logat khas sunda cengkok baduy. Mendengar ajakan tersebut kami seakan tertiup angin sepoi ditengah panas. Tanpa basa basi kami menerima ajakan tersebut walaupun ada sedikit cek cok diantara kami dan calo. Tuntas sudah urusan kami dengan calo, kami diajak menuju salah satu rumah warga baduy luar yaitu bernama kang Jaka. Rasa kesal sudah mulai menghilang saat kami saling memperkenalkan diri di teras rumah panggung baduy luar yang sudah diperbolehkan menggunakan paku. Kopi hitam kental hangat itulah welcome drink kami.

Kang Sarifwarga Baduy

Kang Sarif
warga Baduy

Jalan Pintas

Perbincangan kami semakin seru dan salah satunya adalah menyindir tentang calo yang kami temui tadi. Hujan pun berhenti mengguyur pegunungan Lebak, tanda kami untuk mengawali pendakian. Untuk menuju baduy dalem kami harus menempuh jarak kurang lebih 12km dengan medan yang cukup rumit. Hujan yang turun membasahi kelompok kami membuat suasana semakin segar akan tetapi hujan yang turun juga mengakibatkan jalan tanah setapak menjadi berlumpur. Kami memang masuk dari Ciboleger tetapi rute yang kami lalui melalui jalan pintas bukan jalan umum. Butuh konsentrasi penuh saat kami menelusuri jalan setapak menuju kampung Cibeo dimana suku baduy dalem berada. Selama perjalanan kami banyak menemukan pengalaman menarik, yaitu seringnya tergelincir karena medan jalan yang licin dengan persiapan yang kurang memadai. Selama perjalanan kami terus bertanya tentang baduy dalem yang secara mendalam. Kang Sarif dengan langkah yang tegak dengan nada halus dia menjawab semua pertanyaan kami.

Bergotong Royong

Kata gotong royong bagi kami baru terdengar lagi. Kami pikir kata gotong royong sudah hilang ditelan kerakusan manusia zaman sekarang ini. Baduy berbeda, mereka bergotong royong bukan hanya berupa lisan namun pada prakteknya mereka benar benar melakukannya. Ditengah perjalanan kami kang Sarif menceritakan tentang kehidupan di baduy dalem terutama bagaimana mereka menjalankan kehidupan sehari-hari. Bagi warga baduy mereka hidup dengan bercocok tanam. Mereka pada intinya diwajibkan menanam padi, namun menanam padi khas suku baduy sangat berbeda dengan menanam padi yang biasa kita lihat. Mereka menanam padi tanpa menggunakan pupuk dari bahan kimia. Menanam padi pun tidak sembarangan bagi warga baduy, ada ritual khusus yang wajib dijalankan. Salah satunya adalah disaat benih padi ingin ditanam selama perjalanan harus diiringi dengan musik dengan angklung.

aldhi suharso

aldhi suharso

baduy

baduy

baduy 5
pintu masuk baduy
baduy 7
Aldhi Suharso
11140110153
Univ. Multimedia Nusantara
@aldybibiw / +6282123825755

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: